cerita kepada sang cucu
Menghembuskan alam pada sela hidung
Kenyataan hadir dalam mimpi
Kebekuan bibir rubah langkah
Kekakuan hati ganti kata-kata dengan bayang
Langit kelabu diselimuti mendung
Terpa ujung rambut yang menari
Satu-satu titik air mata cakrawala merasuk nafas
Cipta bunga es sejuk nan pedih
Alam merajuk pada tanah
“Mengapa Dewi Sri membungkuk begitu dalam?
Hanya karena Dewa Bayu berjalan-jalan
Mengapa Iris begitu dendam pada apa saja?
Sedang Anubis hanya diam tak berkutik”
Disela mimpi pandangan yang nyalang jumpai Thor tepekur
Palunya terluka tanpa darah, tanpa kisah
Baringkan tubuh tuk temui keindahan tak terbatas
Kisah-kisah bergantian datang tak ada yang pergi
Menumpuk, menggunung
Makin berat raga yang rebah pikul petir-petir Zeus
Sedang Semar sakit perut tak mampu kentut
Klampis Ireng t’lah musnah
Sampai Batara Narada menunduk
Pandangan bola mata masih kabur dihinggapi laron
Ketika pelan-pelan Batara Kala mengelus pipiku
Dan berbisik,
“Teruskan mimpimu, selagi sanggup
jangan relakan jika diinterupsi
hisap dalam-dalam asap kehidupanmu
sampai kau lelah untuk bermimpi
lalu temui kenyataan, ini bukan mimpi”